| Subcribe via RSS

Kuliah Umum CCTI UI

July 17th, 2010 | 2 Comments | Posted in BundaGaul, FUPEI

Waktu acara #StartupLokal 3, aku dikenalin dengan pak Riza dari CCTI UI, pak Riza memintaku untuk menjadi pembicara di Kuliah Umum membicarakan masalah Startup di Indonesia. Awalnya agak bingung mau bawainnya gimana, akhirnya aku minta tolong langsung dengan temen2 dari #StartupLokal untuk memberikan informasi singkat mengenai startup mereka masing2. Berikut ini presentasinya:

Tags: , , , , , , , , , ,

Liat FUPEI Mobile Melalui Browser

March 2nd, 2010 | No Comments | Posted in FUPEI

Ditengah-tengah ngurusin AutoSally yg sebentar lagi bakalan launching, aku coba sempetin untuk ngebuat feature baru di FUPEI, feature kecil untuk membantu memperkenalkan kepada FUPEIs versi mobile dari FUPEI, mungkin beberapa FUPEIs ada yg masih bingung dengan fungsi2 yang ada di FUPEI Mobile, nah dengan adanya feature ini FUPEIs bisa memperlajari dulu apa saja fungsi2 yang ada di FUPEI Mobile dengan melakukan testing di browser dulu.

Cara ngesetnya cukup mengklik link FUPEI MOBILE yang ada dibawah logo FUPEI.

Dan kalo mau balikin ke kondisi awal tampilan FUPEI, cukup mengklik FUPEI WEB dibawah halaman.

Tags:

FUPEI Jaring 130 Ribu Member

February 17th, 2010 | No Comments | Posted in FUPEI

oleh : Kristiana Anissa

Meski situs jejaring sosial dari luar negeri banyak meramaikan dunia maya, ternyata situs serupa buatan lokal pun diminati. Buktinya, Friends Uniting Program Especially Indonesian (FUPEI) sejak didirikan tahun 2004 oleh Sanny Gaddafi, kini berhasil menggaet 130 ribu member. Dan setiap harinya angka itu masih terus bertambah dengan jumlah sekitar 300 orang per hari.

Sanny mengaku, beberapa anggota FUPEI juga orang asing karena saat Sanny bekerja sama dengan seorang investor asal AS, server FUPEI berlokasi di luar negeri.  Namun, saat ini servernya berlokasi di dalam negeri karena kerja sama dengan investor AS itu sudah putus. “Pada dasarnya, semua kalangan dapat menggunakan FUPEI.  Namun, sebagian besar pengguna FUPEI berasal dari usia 20-35 tahun dan 15-20 tahun,” kata lulusan S1 jurusan IT dan Statistik Ubinus dan S2 bidang Finance Ubinus, itu.

Saat pertama dibuat, FUPEI belum memiliki berbagai fasilitas menarik seperti situs pertemanan lainnya.  Kala itu member hanya bisa saling ‘connect‘ dengan rekannya di FUPEI, kirim-kiriman message, dan testimonial.  Seiring berjalannya waktu, maka mulailah dilengkapi fasilitas album foto, musik, video, blog, e-card, games dan sebagainya.

Untuk pengembangan selanjutnya, FUPEI akan terus mempertajam fasilitas-fasilitas yang bersifat lokal sehingga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan website-website yang sejenis.  Salah satu fasilitas yang bersifat lokal dan menonjolkan keunikan FUPEI sebagai website jejaring sosial lokal adalah adanya 5 bahasa daerah yang dapat digunakan di FUPEI selain Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.  Kelima bahasa daerah itu adalah bahasa Betawi, Jawa, Sunda, Minang dan Lampung.  “Semua itu juga atas bantuan para member yang sangat loyal dengan FUPEI.  Mereka yang menerjemahkan bahasa-bahasa itu.  Saya berikan fasilitas itu kepada mereka dan mereka mengerjakan dengan sukarela tanpa dibayar,” jelas Sanny.

Selain itu, dengan mempertimbangkan banyaknya situs jejaring sosial yang kini tengah marak, FUPEI juga memberikan fasilitas untuk menghubungkan situs itu dengan Facebook.  “Ya kita tidak mungkin head to head dengan Facebook,” ujar sulung dari 2 bersaudara ini.

Dukungan dan banyaknya publikasi dari media yang berisi ajakan untuk menggunakan website lokal, diakui Sanny, juga membantu website lokal untuk bersaing dengan website asing. Menurutnya, jumlah pesaing FUPEI sangat banyak, baik lokal maupun internasional.  Dan karena alasan lokal ini pula FUPEI mencoba untuk terus meningkatkan fasilitas-fasilitas yang menonjolkan unsur-unsur lokalnya.

Namun, target FUPEI yang paling utama adalah mendapatkan investor untuk bisa mengembangkan FUPEI dengan lebih baik.  “Tidak perlu muluk-muluk untuk menjadi berskala internasional. Cukup di negara sendiri, seperti Mixi di Jepang, sebuah website social networking yang menjadi website nomor satu,” jelas pria kelahiran Bekasi, 25 Agustus 1980.

Sanny  optimistis dengan prospek FUPEI kelak. Ia menilai, seiring dengan makin mudahnya akses internet, maka prospek website dengan konten seperti ini akan semakin besar.  (EVA)

Artikel ini diambil dari http://swa.co.id/2010/02/fupei-jaring-130-ribu-member/

Tags: , ,

Gunakan Bahasa Daerah, Bantu Hemat Anggaran Negara

January 18th, 2010 | No Comments | Posted in FUPEI

KARYA – Sanny Gaddafi, web developer dari situs pertemanan Fupei, saat menunjukkan salah satu tampilan Fupei dalam bentuk mobile. Foto: Tri Mujoko Bayuaji/Jawa Pos.

Keberadaan Fupei memang belum setenar Facebook atau Twitter. Namun, mengandalkan konten yang lebih meng-Indonesia, termasuk penggunaan bahasa lokal beberapa daerah, member situs pertemanan yang dirintis Sanny Gaddafi ini terus berkembang. Seperti apa?

Laporan TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta

SOSOK Sanny Gaddafi tak ubahnya pemuda lain. Gaya busana gaul lengkap dengan sepatu sneakers di kaki. Fisik Sanny juga terawat karena fitness rutin yang dijalani. Ciri lain pria kelahiran Bekasi, 25 Agustus, 29 tahun lalu ini adalah laptop 12 inci yang setia dibawanya. Ya, untuk mengembangkan Fupei (www.fupei.com), Sanny cukup melakukannya dengan perangkat komputer yang bisa ditenteng itu.

“Fupei tidak punya kantor. Asalkan ada koneksi internet, setiap hari saya bisa memantau Fupei di mana saja,” ujar Sanny, pengembang situs Fupei saat ditemui Jawa Pos di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi, Jawa Barat. Bersama temannya, Fu Marlinda Yumin, Sanny mengembangkan Fupei sejak 2004. Sanny yang berlatar pendidikan IT, bertugas sebagai web developer, sementara Linda yang memiliki latar dari finance, mengurus keuangannya.

Sanny pun menceritakan ikhwal ketertarikannya pada situs pertemanan, yang sama seperti halnya remaja lain. Itu terjadi saat Sanny masih mengenyam bangku kuliah di Kampus Universitas Bina Nusantara Jakarta. Ketika itu, situs pertemanan Friendster (FS) begitu populer di kalangan mahasiswa. Jika ada mahasiswa menggunakan internet, salah satu yang dibuka pasti FS.

“Waktu itu booming banget. Nggak normal, karena yang akses internet tidak sebanyak sekarang,” ujarnya dengan nada penasaran.

Ketertarikan Sanny adalah pada cara FS merangkul para member (anggota). Cukup dengan saling berbalas testimoni, para anggota bisa saling berkomunikasi dengan teman baru ataupun lama. Adalah komunikasinya dengan Linda, teman FS-nya saat itu, yang akhirnya mendorong Sanny memutuskan untuk coba membuat situs pertemanan sendiri.

“Pas dibuat, ternyata cuma gitu doang,” ujar Sanny mengilustrasikan betapa mudah cara pembuatan web-nya. Pada Mei 2004, Sanny bersama Linda pun memperkenalkan Fupei kepada teman-teman mahasiswanya. Iklan dari mulut ke mulut itu pun akhirnya menjadikan jumlah Fupeis (sebutan untuk member Fupei, Red) berkembang. “Waktu itu konsepnya masih mirip sama FS. Ternyata responnya bagus,” ujarnya.

Disebut Fupei karena situs itu untuk pertemanan khusus orang Indonesia. Simak saja kepanjangannya: Friends Uniting Program Especially Indonesian. Slogan yang dimiliki Fupei pun sangat sederhana: without friends, we’re nothing (tanpa teman, kita bukan siapa-siapa, Red). “Karena memang tanpa member, Fupei tidak akan menjadi apa-apa,” jelasnya.

Setiap waktu, Fupei terus berkembang. Seperti halnya situs pertemanan, Fupei juga memiliki fitur status, forum, album foto, musik, video, blog, ataupun game. Karena situs ini dibuat asli Indonesia, pengembangan yang dilakukan pun memasukkan konten lokal yang tidak dimiliki situs pertemanan lain. “Yang paling terasa adalah bahasa daerah. Ada lima bahasa daerah yang sudah masuk di Fupei,” ujarnya bangga.

Lima bahasa daerah yang sudah dikembangkan adalah bahasa Jawa, Betawi, Sunda, Minang dan Bugis. Sanny bertutur, keberadaan lima bahasa itu tidak akan terjadi tanpa bantuan Fupeis. Untuk satu bahasa daerah yang dikembangkan, paling tidak ada 10 member yang membantu Sanny.

Misalnya, untuk mengganti satu kata bahasa Indonesia menjadi bahasa Jawa, perlu perdebatan antar-Fupeis. Menurut Sanny, ada ribuan kata yang dimasukkan para Fupeis. Contohnya untuk kata “anda”, ada member yang menyodorkan kata “kowe”, “sampeyan” dan sebagainya. Demikian juga untuk bahasa Betawi. Ada yang menyodorkan “lu”, atau “ente” sebagai pengantar.

“Usul itu yang dimasukkan para member, terus dicoba. Mana yang banyak setuju akhirnya dipakai,” jelasnya. Karena menganut konsep web 2.0, setiap member dan developer bisa berkomunikasi mengembangkan Fupei dengan interaksi dua arah. Menurut Sanny, pengembangan konten bahasa daerah hingga kini masih dilanjutkan. Bahasa daerah yang masih dikembangkan adalah bahasa Papua dan Palembang.

Interaksi antara developer dan member seperti ini jarang terjadi pada situs pertemanan lain. Menurut Sanny, tanpa dibayar sepeser pun, para Fupeis terus membantu mengembangkan Fupei. Apalagi, pertemanan yang dilakukan para member tidak hanya dilakukan di dunia maya. Pertemanan itu juga dilanjutkan dengan pertemuan antar-Fupeis. “Kalau Fupeis gathering (berkumpul), kami juga ikut. Tidak sebagai developer, tapi sebagai member biasa,” jelasnya.

Selama lebih dari lima tahun dikembangkan, banyak pula cerita mewarnai Fupei. Menurut Sanny, ada sejumlah Fupeis yang akhirnya berjodoh dan menikah. Salah satu yang cukup spesial adalah seorang mahasiswa Indonesia di Belanda yang akhirnya berjodoh dengan mahasiswi Indonesia di Kanada. Mulai perkenalan, pernyataan saling suka, semua terekam dalam Fupei.

“Jadi, mereka bisa ketemu karena Fupei,” ujarnya bangga. Penghargaan terhadap Fupei dari member juga muncul. Dalam sebuah kesempatan, ada seorang member memasang foto, tengah menancapkan bendera Fupei di puncak Everest, Nepal.

Bila dibandingkan dengan situs pertemanan luar negeri, Sanny menyebut ada juga Fupeis yang kecewa dengan situs buatannya. Bukan karena fitur yang dimiliki kalah dengan situs luar negeri. Tapi, mereka kecewa setelah tahu bahwa Fupei adalah buatan anak negeri. “Pertama senang sama Fupei. Komentarnya positif. Begitu tahu situs lokal, ada yang kecewa dengan sejumlah alasan,” tuturnya.

Padahal, jika dilihat lebih luas, situs pertemanan Fupei bisa menghemat anggaran negara. Kata Sanny, boleh peduli atau tidak, negara harus membayar biaya yang tinggi, untuk setiap akses situs luar negeri. Sementara, server Fupei yang disewa Sanny dan Linda berlokasi di Jakarta. Dalam hal ini, negara bisa mengeluarkan biaya lebih sedikit untuk setiap akses situs lokal yang dijelajahi.

“Kita mungkin masa bodoh, tapi ini hanya mengajak untuk peduli dengan web lokal. Kalau untuk Fupei, kembali pada minat dan pribadi masing-masing,” ujarnya.

Jumlah member Fupei memang tidak sebanyak situs pertemanan yang populer produk luar negeri. Tapi, juga tidak bisa dibilang sepele. Terhitung hingga akhir Desember 2009, ada sekitar 120.000 member Fupei.

Namun, jumlah sebanyak itu tampaknya sudah cukup menarik sponsor. Sejak Fupei terus berkembang, Sanny dan Linda memang membutuhkan dana untuk membiayai server yang mereka sewa. Iklan banner yang terpampang di Fupei selama inilah yang menjadi sumber dana untuk pengembangan Fupei. “Hasil banner ini profit sharing (bagi laba, Red), namun paling tidak cukup untuk bayar server,” ujarnya sambil menolak menyebut berapa pendapatannya selama ini.

Sanny memendam obsesi besar untuk mengembangkan Fupei. Menurut dia, sudah saatnya Fupei dikembangkan secara profesional. Dalam arti, Fupei segera memiliki staf profesional yang bertugas mengembangkan fitur-fiturnya. “Paling tidak, rencananya 2010 ini harus lebih profesional. Punya kantor misalnya,” ujarnya sambil tersenyum.

Obsesi Sanny lainnya adalah mengembangkan Fupei ke kawasan Asia Tenggara. Tepatnya yakni mengembangkan Fupei dengan bekerjasama dengan konten lokal di setiap negara ASEAN. Jalan yang diretas saat ini sudah terlihat. Sebuah konten provider mengajak Fupei masuk dalam paket langganan komunikasi. “Paling tidak, kerjasama itu bisa menambah Fupei lebih luas dikenal,” ujarnya.

Bagi Sanny, menjadi developer Fupei sudah menjadi pekerjaan utamanya saat ini. Skill yang dimiliki sebagai developer Fupei ternyata tak sia-sia. Dalam beberapa kesempatan, ada member Fupei yang memintanya membantu desain web. Yang terkini, seorang WNI di Amerika menawarinya. Sanny diminta mengembangkan ide web yang akan diluncurkan di negeri Paman Sam itu. (nw)

Artikel ini diambil dari: http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=56621

Tags: , ,

Sekarang tulis komentar bisa langsung dari box Activities FUPEI

January 15th, 2010 | No Comments | Posted in FUPEI

Karena naksir berat dengan feature homenya Koprol & Facebook, akhirnya aku selesai juga terapin model seperti itu di FUPEI, sekarang dari halaman Dashboard FUPEI bisa langsung mengomentari segala macam content yg sudah di masukkan oleh FUPEIs juga, dengan ini diharapkan FUPEIs bisa lebih sering lagi mengomentari content yang sudah di masukkan oleh teman2nya…

Tags: , ,
  • @sagad